PAHLAWAN hanyalah pecundang yang beruntung. Ratih selalu tak
bisa melupakan kata-kata itu setiap kali melewati jalan ini. Telah banyak yang
berubah. Tak ada lagi deretan kios koran, warung gado-gado, dan penjual bensin
eceran di pojokan. Bangunan kuno asrama mahasiswa yang dulu berada di sisi
kanan telah menjadi ruko bergaya modern. Waktu mengubah gedung-gedung, tapi
tidak mampu mengubah kenangannya.
Ratih tersenyum membaca nama jalan itu. Teringat apa yang
dikatakan Eka. ”Banyak orang ingin jadi pahlawan, agar namanya dijadikan nama
jalan. Mungkin, itulah satu-satunya keberuntungan menjadi pahlawan di negara
ini.” Ada sinisme dalam kata-katanya. Tapi itulah, yang ketika pertama kali
bertemu dalam satu diskusi, membuatnya suka pada Eka. Dia selalu menarik perhatian
dengan pernyataan-pernyataan yang disertai kelakar. ”Militerisme pasti mati di
Republik ini. Dan aku adalah orang sipil pertama yang akan menjadi Panglima
ABRI. Tak hanya dapat Bintang Lima. Tapi Bintang Tujuh. Lumayan, bisa buat obat
sakit kepala…” Saat itu Presiden Soeharto memang baru mendapat gelar Jenderal
Besar Bintang Lima. Dan Bintang Tujuh adalah merek puyer obat sakit kepala.
Ratih kemudian tahu, Eka seorang penulis. Mungkin itu
sebabnya dia cenderung penyendiri. ”Aku kurang flamboyan sebagai aktivis,”
katanya tertawa. Dia tak suka tampil berorasi di mimbar. Mungkin sadar, suara
cemprengnya tak akan membuat terpesona para demonstran. ”Dalam perjuangan, ada
yang menggerakkan, ada yang memikirkan. Aku memilih yang kedua,” katanya.
”Mimbar dan panggung itu godaan. Banyak yang tampil di mimbar hanya ingin
mendapatkan sebanyak mungkin tepuk tangan. Begitu turun panggung, mereka lupa
dengan apa yang mereka katakan.”
Ratih ingat ketika Eka mengantar pulang setelah menonton
pertunjukan teater di Auditorium Fakultas Filsafat. Eka yang menulis naskahnya.
Ratih yakin, saat itu Eka mengajaknya nonton karena dia pingin pamer naskah
yang dia ditulis. Naskah yang menurut Ratih terlalu sok filosofis: bagaimana
seseorang mesti berani meneguk racun untuk membela pemikiran yang diyakininya.
Penulisnya seperti hanya ingin menunjukkan bahwa ia adalah mahasiswa filsafat
yang merasa lebih hebat dari Socrates yang dipujanya. ”Lakon yang kamu tulis
itu membuktikan kamu memandang hidup ini getir. Makanya selalu sinis.”
”Sinis bagaimana?”
”Ya, hampir semua hal kamu tanggapi dengan nyinyir…”
”Jangan salah,” Eka menatapnya tajam. ”Kamu harus membedakan
antara filsuf dan orang biasa. Kalau orang biasa sinis, akan dianggap nyinyir.
Tapi kalau filsuf sinis, itu disebut kritis.”
”Gundulmu, Ka!!
Eka tertawa dan memeluk pundaknya. Entah kenapa, saat itu ia
tak mencoba mengelak.
Laki-laki romantis adalah laki-laki yang bisa membuat
perempuan tertawa. Ratih teringat kalimat di sebuah buku: menikahlah dengan
laki-laki pertama yang membuatmu tertawa. Ia lupa judulnya. Yang tak ia lupa
ialah ketika Eka datang ke rumahnya pertama kali pada malam Jumat. Tidak
membawa bunga, tapi martabak. ”Pertama, mesti kutegaskan,” katanya. ”Aku
sengaja datang malam Jumat, karna tahu, malam Minggu kamu sudah milik orang
lain. Aku tak berhak mengganggunya. Seseorang yang bahagia adalah seseorang
yang diberi kesempatan memilih dalam hidup. Maka aku memberimu kesempatan, agar
kamu bisa memilih sendiri kebahagiaanmu. Tak perduli, apakah bagimu nantinya
aku pilihan kedua atau pertama.”
”Jadi kamu tahu aku sudah punya pacar?”
”Kalau perempuan semanis kamu tidak punya pacar, pasti ada
yang salah pada selera semua laki-laki di dunia ini.”
Ratih tertawa.
”Dan kedua, soal martabak ini. Sebagai anak kost, aku mesti
yakin, bahwa aku tidak membelikanmu sesuatu yang akan sia-sia. Itu sebabnya aku
membawakanmu martabak.”
”Kenapa?”
”Karna bila kamu tak suka, aku bisa memakannya sendiri.”
Ia memang tak suka martabak. Hanya mencicip sepotong untuk basa-basi,
selebihnya Eka yang menghabiskan. Sejak itu (seperti yang selalu diistilahkan
Eka) dia menjadi ”pemilik malam Jumat”. Sebab ”pemilik malam Minggu” adalah
Munarman, mahasiswa ekonomi sefakultas yang sudah dua tahun menjadi pacar
Ratih. Keduanya kutub yang bertolak belakang.
Munarman–lebih suka di panggil Arman–bertubuh tegap atletis.
Seorang yang selalu tak ingin ketinggalan baju-baju yang sedang menjadi mode di
majalah popular. Eka ringkih dan selalu tampak kucel dengan kaos yang seminggu
bisa dipakainya terus-menerus. Dia punya argumen: jauh lebih berguna
menghabiskan waktu untuk membaca buku dari pada untuk mencuci baju. Arman
selalu mengajaknya ke kafe, diskotik atau ramai-ramai karaokean dengan
kawan-kawan gaulnya. Bila mengajaknya keluar, Eka membawanya ke acara-acara
diskusi, pembacaan puisi, pameran lukisan atau sampai larut menghabiskan sepoci
teh di warung deket kampus. Seringkali malah hanya jalan kaki, menyusuri
jalanan tanpa tujuan. ”Jalan kaki ini bukan perkara idiologi,” kata Eka, ”tapi
karena aku memang tak punya mobil.” Terdengar sinis seperti biasa. Seakan
ditujukan pada Arman yang memang selalu menjemput Ratih dengan mobil
terbarunya.
Arman anak purnawirawan Kolonel Angkatan Darat. Ayah Eka
guru Sekolah Dasar Inpres di sebuah desa–yang dalam ungkapan Eka sendiri
disebutnya ”tak akan pernah pantas dimasukkan dalam peta Indonesia saking
terbelakangnya”. Arman selalu pamer pangkat orangtuanya. ”Orang-orang seperti
ayahkulah yang memiliki negara ini,” kelakar Arman yang kerap diulangnya dengan
nada bangga. Eka begitu menghormati kemiskinan ayahnya. ”Aku ingin menjadi
filsuf karena merasakan nasib ayahku. Seorang yang dalam hidupnya sanggup
menanggung dua penderitaan sekaligus. Pertama, karena ia guru. Kau tahu nasib
guru di negara ini, kan? Mulia statusnya, tapi melarat nasibnya. Kedua, karena
ia beristri perempuan yang tak hanya cerewet tapi juga galak dan menindas.
Penindasan paling kontemplatif selalu datang dari seorang istri. Itu sebabnya
ayahku selalu murung dan termenung. Nah, kini kau tahu, kenapa aku mengagumi
ayahku dan Socrates! Itulah alasan filosofis, kenapa aku memilih masuk Fakultas
Filsafat. Alasan idiologisnya, karena aku tertindas. Sedang alasan praktisnya,
karena jurusan filsafat tak banyak peminatnya.”
Ratih sering bertanya pada dirinya sendiri, kenapa ia bisa
menyukai dua laki-laki itu? Mungkin karena bersama Arman ia menikmati hidup.
Sementara dengan Eka ia merasa ada sesuatu yang mesti diperjuangkan dalam
hidup.
Di bulan-bulan penuh demonstrasi menjelang reformasi, ia
sering mencemaskan Eka. Aparat semakin keras dan represif menghadapi para
mahasiswa yang turun ke jalan menuntut Soeharto mundur. Berkali-kali terjadi
bentrokan dan aparat tak hanya menembakkan gas air mata. Lima mahasiswa terluka
tertembak peluru karet, dalam satu bentrokan di bundaran kampus. Seorang
mahasiswa yang sedang memotret dihajar puluhan aparat, tubuhnya yang sudah
terkapar terus ditendang, kameranya diinjak-ijak. Tubuh mahasiswa yang sudah
berdarah-darah itu diseret lebih dari 100 meter di aspal jalan yang panas
sambil terus ditendangi dan dipukuli dengan pentungan.
Sementara usai demonstrasi menutup jalan pertigaan depan
kampus IAIN Sunan Kalijaga, delapan kawan mahasiswa diciduk aparat. Kabarnya
mereka disekap di Kodim. Beberapa aktivis segera berkumpul di rumah kontrakan
di Gang Rode yang sering dijadikan tempat pertemuan–”rapat gelap” istilah
mereka–dalam suasana penuh kecurigaan. Beberapa orang dianggap sebagai intel
militer yang disusupkan. Eka mengajaknya ke pertemuan itu. Daulay, Ata, Toriq,
Maria, Seno, Budiman, Semendawai, Afnan, Damai, Leyla, Rizal, Rahzen, dan
beberapa yang hadir tak bisa menyembunyikan ketegangannya, bicara dengan nada
tinggi, membentak dan saling tuding.
”Secepatnya kita harus melakukan lobby untuk membebaskan kawan-kawan
kita.”
”Biar intel militer kayak kamu yang urus!”
Seseorang menggebrak meja. Ratih tak melihat jelas siapa. Ia
agak sembunyi di belakang Eka.
”Ada yang sudah dapat kabar keadaan mereka?”
”Tenang,” kata Eka. ”Penjara, akan membuktikan tangguh
tidaknya mereka. Lagi pula, penjara justru meningkatkan martabat para
pembangkang.”
Penjara. Sering Ratih merasa ngeri setiap membayangkan pada
akhirnya Eka akan mengalaminya. Sanggupkah tubuh Eka yang kurus menahan siksaan
disetrum, dibaringkan di atas balok es semalaman, dijepit jempolnya dengan tang
atau digampar popor senapan? Eka memeluknya ketika Ratih mengungkapkan
kecemasannya. Malam itu pertama kali Ratih menginap di kamar kost Eka.
”Kekuatan manusia bukan pada tubuhnya, tapi jiwanya,” kata Eka. ”Kau sudah baca
novel Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis? Pada akhirnya bukan Hazil yang muda,
bersemangat, dan tampak kuat yang mampu bertahan oleh siksaan. Tapi Guru Isa
yang tua, kelihatan lemah dan impotent.” Malam itu Ratih merasakan badan Eka
hangat dan gemetar. Eka tak bisa menyembunyikan kegugupan ketika mulai
menciuminya. Ratih tahu, itu bukan kegugupan laki-laki yang baru tidur pertama
kali dengan perempuan.
Demonstrasi nyaris terjadi setiap hari. Ia sering bersama
Eka malam-malam keluar masuk gang-gang menyebarkan selebaran. Seperti
gerilyawan kota, kata Eka. Sementara Arman mulai terang-terangan menunjukkan
ketidaksukaannya. ”Jangan dikira aku tak tahu hubunganmu dengan Eka,” katanya.
”Persetan dengan politik! Tapi pada akhirnya aku yakin, kamu akan memilih aku.
Terlalu beresiko kamu hidup dengan Eka. Pertama, kamu akan menderita. Kedua,
kamu cepat jadi janda. Eka pasti akan mati diculik atau diracun. Karna
begitulah nasib aktivis.”
Bila Ratih semakin cemas, itu bukan karna ucapan Arman, tapi
rasanya memang ada yang tak akan pernah mungkin mampu ditanggungnya bila ia
terus dekat Eka. Ibu pun sudah mulai tak suka setiap kali Eka datang ke rumah.
Berita-berita demonstrasi di televisi membuat ibu melarangnya pergi. Ia tak
menyalahkan. Itu perasaan wajar seorang ibu yang telah bertahun-tahun hidup
sendirian mencemaskan anak perempuan satu-satunya.
Ratih sedang makan malam dengan ibunya ketika bentrokan
antara mahasiswa dan aparat di jalan tak jauh dari rumah terus berlangsung
hingga selepas isya. Mahasiswa yang berdemonstrasi sejak pagi terus bertahan
menutup jalan hingga malam. Semakin malam semakin banyak warga yang ikut
bergabung. Aparat membubarkan paksa, dengan menembakkan gas air mata. Truk-truk
yang mengangkut pasukan terus menderu melintas, suaranya terdengar dari rumah
Ratih. Serentetan suara senapan dan ledakan sesekali menggelegar. Suasana
mencekam bahkan terasa hingga ke dalam rumahnya. Beberapa demonstran beberapa
kali terlihat berlarian masuk ke dalam gang samping. Aparat menggedor-gedor
pintu, mencari mahasiswa yang sembunyi di dalam rumah penduduk. Saat itulah
Ratih mendengar pintu diketuk. Ibu terlihat pucat. Hati-hati ia mengintip dari
celah korden, ternyata Arman. Dia buru-buru masuk dengan gugup. Dia bercerita
kalau dirinya terjebak di tengah-tengah kerusuhan ketika menuju ke mari. Di
jalan ada dua panser yang memblokade jalan. Mobilnya digebrak-gebrak dan
diancam hendak dibakar. Mobil ia tinggalkan, dan segera berlari menyelamatkan
diri. Ibu memberinya segelas air putih. Tangan Arman gemetaran memegangi gelas.
Baru tengah malam bentrokan mereda. Karena merasa sudah
aman, Arman pamit pada ibu untuk melihat mobilnya sekalian mau beli rokok. Ada
dua hal yang tak gampang diduga: nasib dan politik. Esok siangnya Ratih
mendengar kabar yang tak pernah dibayangkan. Arman mati tertembak peluru
nyasar, ketika bentrokan kembali memanas di jalan itu dan aparat dengan
serampangan melepaskan tembakan. Ratih juga tak lagi bertemu Eka setelah
bentrokan yang terus berlangsung hingga subuh itu. Tak ada yang tahu ke mana
Eka. Kawan-kawannya yakin Eka diculik, dan tak jelas nasibnya.
Begitu lulus kuliah, Ratih memilih pergi dari kota ini.
Berusaha melupakan ingatan pahit itu. Hanya pulang sesekali untuk menengok
ibunya. Dan setiap kali pulang, mau tak mau ia pasti melewati jalan ini, dan
kenangan itu selalu muncul kembali. Dulu ia mengenal jalan ini sebagai Jalan
Sutowijayan. Kini bernama Jalan Munarman. Pecundang memang sering kali lebih
beruntung.
Yogyakarta, 2010-2013
(Cerita buat Eka Kurniawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar